Selamat sore saya sedang berada di perpustakaan kampus saya. Tadi saya bosan, ga ada kelas dan malas bikin tugas. Saya ke perpus entah untuk apa mungkin hanya untuk mengisi waktu bosan. Saya cari buku-buku disini, semua terasa asing, hanya ada beberapa buku (majalah) yang saya ketahuin. Yak! Saya ambil majalah concept. Tahun 2006, 5 tahun yang lalu. Saya juga gatau kenapa saya mengambil majalah itu. Concept itu majalah dkv, saya Cuma mau tau gimana dkv. Marak sekali di perbincangkan dewasa ini, menurut saya imu dkv itu bisa di dapat dimana saja, secara otodidak. Tidak perlu melalui jalur akademis.
Tapi saya ingat kata bang Dik Doang yang waktu itu saya di izinkan oleh Tuhan untuk bertemu dengan orang yang saya rasa adalah figure yang mama saya imginkan, saya bisa seperti dia. Bang dik doang bilang “Jalani dulu yang struktual baru yang abstrak” mungkin kata ini ada benarnya juga, menurut saya kalo kita ambil yang abstrak terlebih dahulu kita tidak akan tahu bagaimana yang stuktural itu bisa terjadi, ada kaitanya dengan kalimat “ada sebab ada akibat”. Sama halnya dengan yang sering di gembor-gemborkan di tempat saya mensalahkan ilmu., agar kita harus ikutin strukturya atau prosedurnya terlebih dahulu baru nanti ketika hari H kita bisa dapat yang abstraknya, kalau misalnya di balik. Kalo kita ikuti itu semua tanpa prosedur atau tanpa struktur yang baik, akan timbul rasa aneh ketika hari H. Dan untuk semua hal kecuali konsep ketuhanan saya rasa mengikuti stuktural lalu menemukan ke abstrakan itu jauh lebih baik, ketimbang sebaliknya.
Saya juga pernah mendengar dan sering di wanti-wanti agar tidak menjadi seperti keledai “jangan jadi keledai!". Saya belum paham betul maksudnya, tapi saya coba pahami bahwa kita belajar dari pengalaman, dan keledai tidak pernah belajar dari pengalaman makanya dia selalu jatuh dalam lubang yang sama. Tapi kalau saya, walaupun saya harus menjadi siluman keledai saya usahakan untuk tidak jatuh kedalam lubang yang sama, pepatah itu cuma mitos. Kita bisa merubah mitos. Dan menurut saya jadi keledai tapi jatuh di dalam lubang yang berbeda, kenapa harus di lubang yang sama? Kan saya akan terus berlari tidak berhenti atau bersembunyi di tempat itu untuk memikar bagaimana cara melewati lubang ini tapi tidak tercebur lagi. Dan kenapa saya mau jadi keledai? Keledai walaupu bodoh dia punya pengalaman walau dia tidak pernah berhasil lari ke pengalaman berikutnya. Ya begitulah. Pengalaman, kesalahan jadi hal yang memang semua orang akan rasakan. Tapi karena setiap orang berbeda kepala berbeda pemikiran dan berbeda komitmen, beda juga dalam mencari pengalaman, sehebat apapun kita, kita tidak bisa mensetir pemikiran orang lain.
Disini sudah dingin, di kepala saya masih banyak cerita, banyak anggapan saya, banyak cara dan pendiskripsian hati saya, tapi saya sudah lelah. Mungkin lusa di teruskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar